Bisnis yang menghasilkan laba belum tentu mengelola modal secara optimal. Bagi pemilik usaha, mengetahui jumlah keuntungan saja tidak cukup. Anda juga perlu mengetahui seberapa efektif perusahaan menggunakan modal untuk menghasilkan keuntungan. Anda dapat menganalisis efektivitas tersebut melalui Return on Equity (ROE).
ROE merupakan salah satu rasio profitabilitas yang membantu perusahaan mengukur kemampuan menghasilkan laba berdasarkan modal atau ekuitas. Dengan memahami ROE, pemilik bisnis dapat mengevaluasi kinerja keuangan, menilai efektivitas penggunaan modal, serta menentukan strategi pengembangan usaha dengan lebih terukur.
Pengertian ROE (Return on Equity)
Return on Equity (ROE) merupakan rasio profitabilitas yang membantu perusahaan mengukur kemampuan menghasilkan laba bersih dari modal atau ekuitas. Sederhananya, ROE membantu pemilik bisnis mengetahui seberapa efektif perusahaan menggunakan modal untuk menghasilkan keuntungan.
Perusahaan biasanya menyajikan ROE dalam bentuk persentase. Semakin tinggi ROE, semakin besar laba yang perusahaan hasilkan dibandingkan dengan jumlah ekuitas yang digunakan. Namun, jangan menilai ROE secara terpisah karena struktur utang, margin keuntungan, dan efisiensi perusahaan dapat memengaruhi hasilnya.
Baca Juga: Strategi Pengembangan Usaha: Cara Menumbuhkan Bisnis dan Peran Marketing
Apa yang Ditunjukkan oleh ROE?
Bagi pemilik bisnis, ROE dapat memberikan gambaran mengenai efektivitas penggunaan modal. Misalnya, perusahaan memiliki ekuitas Rp500 juta dan menghasilkan laba bersih Rp100 juta. Artinya, perusahaan menghasilkan laba sebesar Rp100 juta dari setiap Rp500 juta modal yang digunakan.
Dengan melihat ROE secara berkala, pemilik bisnis dapat mengetahui apakah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari modalnya mengalami peningkatan atau penurunan. Perubahan tersebut kemudian dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat efisiensi operasional maupun keputusan bisnis yang telah dilakukan.
Perusahaan juga dapat menggunakan ROE sebagai salah satu indikator untuk membandingkan kinerja dengan bisnis lain dalam industri yang sama. Sebaiknya, perusahaan membandingkan bisnis dengan karakteristik dan industri yang relatif sebanding karena setiap bisnis memiliki kebutuhan modal dan struktur keuangan yang berbeda.
ROE Berbeda dengan ROA
ROE sering dibandingkan dengan Return on Assets (ROA) karena keduanya merupakan rasio profitabilitas. Perbedaannya terletak pada dasar pengukurannya.
- ROE mengukur kemampuan menghasilkan laba berdasarkan ekuitas atau modal pemilik.
- ROA mengukur kemampuan menghasilkan laba berdasarkan total aset yang digunakan perusahaan.
Karena menggunakan dasar yang berbeda, kedua rasio tersebut dapat memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai kinerja perusahaan. Oleh sebab itu, pemilik bisnis sebaiknya tidak hanya melihat satu rasio ketika mengevaluasi kondisi keuangan.
Rumus ROE
ROE dapat dihitung dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dengan total ekuitas (modal) perusahaan. Hasil perhitungan biasanya dinyatakan dalam persentase.
Rumus sederhananya:
ROE = (Laba Bersih ÷ Total Ekuitas) × 100%
Contoh Perhitungan ROE
Misalnya sebuah bisnis memiliki:
- Laba bersih setelah pajak: Rp50 juta
- Total ekuitas: Rp250 juta
Maka:
ROE = (Rp50 juta ÷ Rp250 juta) × 100% = 20%
Artinya, perusahaan mampu menghasilkan laba bersih sebesar 20% dari total modal yang dimiliki.
Semakin mudah bisnis mendapatkan data laba bersih dan ekuitas secara akurat, semakin mudah pula pemilik usaha memantau ROE dari waktu ke waktu. Karena itu, pencatatan transaksi dan laporan keuangan yang rapi menjadi dasar penting sebelum menggunakan ROE sebagai indikator kinerja bisnis.
Baca Juga: Persiapan Memulai Bisnis: 10 Hal yang Harus Disiapkan Sebelum Membuka Usaha
Cara Menghitung ROE
Setelah memahami rumus ROE, langkah berikutnya adalah mengetahui cara menerapkannya pada kondisi keuangan bisnis. Perhitungannya cukup sederhana karena Anda hanya membutuhkan dua data utama, yaitu laba bersih setelah pajak dan total ekuitas.
Secara sederhana:
ROE = (Laba Bersih Setelah Pajak ÷ Total Ekuitas) × 100%
Contoh Perhitungan ROE
Misalnya sebuah perusahaan memiliki:
- Laba bersih setelah pajak: Rp100 juta
- Total ekuitas: Rp500 juta
Maka:
ROE = (Rp100 juta ÷ Rp500 juta) × 100%
ROE = 20%
Artinya, perusahaan menghasilkan laba bersih sebesar 20% dari total modal atau ekuitas yang dimiliki.
Dengan kata lain, setiap Rp1 modal pemegang saham menghasilkan sekitar Rp0,20 laba bersih selama periode tersebut.
Dari Mana Mendapatkan Angka Laba Bersih dan Ekuitas?
Anda dapat menemukan kedua angka tersebut dalam laporan keuangan perusahaan. Laporan laba rugi menunjukkan laba bersih, sedangkan laporan posisi keuangan atau neraca menunjukkan total ekuitas.
Agar hasil perhitungan lebih akurat, gunakan data dari periode yang sama. Misalnya, jika menggunakan laba bersih tahun 2025, gunakan ekuitas yang sesuai dengan periode tersebut.
Baca Juga:
Apakah ROE 20% Selalu Berarti Baik?
Tidak selalu. Nilai ROE sebaiknya tidak dinilai secara terpisah.
Perusahaan perlu membandingkannya dengan:
- ROE perusahaan pada periode sebelumnya;
- ROE kompetitor dalam industri yang sama;
- kondisi utang perusahaan; dan
- perubahan laba serta ekuitas.
ROE yang meningkat dapat menunjukkan adanya peningkatan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari ekuitas. Namun, kenaikan ROE juga dapat terjadi karena ekuitas menurun atau perusahaan menggunakan utang lebih besar. Karena itu, ROE perlu dibaca bersama rasio dan laporan keuangan lainnya.
Bagi pemilik bisnis, menghitung ROE secara berkala membantu menilai apakah perusahaan menggunakan modal secara produktif dan memberikan dasar pertimbangan sebelum mengambil keputusan, seperti menambah modal, melakukan ekspansi, atau mengembangkan bisnis.
Cara Membaca ROE
Setelah mendapatkan nilai ROE, langkah berikutnya adalah memahami apa arti persentase tersebut bagi bisnis. ROE menunjukkan seberapa efektif perusahaan menggunakan modal pemegang saham untuk menghasilkan laba bersih.
Semakin tinggi ROE, semakin besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal yang tersedia. Namun, jangan menilai ROE hanya berdasarkan besar kecilnya persentase. Bandingkan nilai ROE dengan periode sebelumnya dan kinerja perusahaan lain dalam industri yang sama agar Anda dapat menilai kinerja perusahaan secara lebih objektif.
Tinggi Menunjukkan Efisiensi Modal
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki ROE 20%. Artinya, setiap Rp100 modal perusahaan menghasilkan sekitar Rp20 laba bersih dalam periode tersebut. Jika perusahaan mencatat ROE sebesar 15% pada tahun sebelumnya, kenaikan menjadi 20% dapat menunjukkan bahwa perusahaan semakin efektif dalam menghasilkan laba dari modalnya. Namun, perusahaan tetap perlu menganalisis kenaikan ROE bersama faktor lain, seperti profit margin, utang, dan perputaran aset.
Rendah Perlu Dicari Penyebabnya
ROE yang rendah menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modalnya relatif rendah. Kondisi ini dapat menjadi sinyal bagi manajemen untuk mengevaluasi kinerja bisnis.
Berbagai faktor dapat menyebabkan kondisi tersebut, seperti penurunan laba, penjualan yang stagnan, biaya operasional yang terlalu tinggi, atau perusahaan yang belum memanfaatkan modal secara optimal.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa ROE rendah berarti bisnis tidak sehat. Cari tahu terlebih dahulu faktor yang menyebabkan rendahnya ROE.
Bandingkan ROE dari Tahun ke Tahun
Salah satu cara sederhana membaca ROE adalah melihat trennya.
Contohnya:
| Tahun | ROE |
| 2023 | 12% |
| 2024 | 15% |
| 2025 | 18% |
Dari data tersebut, ROE mengalami peningkatan selama tiga tahun. Artinya, kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal menunjukkan perkembangan positif.
Sebaliknya, jika ROE terus menurun, manajemen perlu mengevaluasi penyebabnya sebelum mengambil keputusan bisnis berikutnya.
Jangan Membandingkan ROE Antarindustri Secara Langsung
ROE perusahaan sebaiknya dibandingkan dengan bisnis yang memiliki karakteristik industri dan model bisnis yang relatif sama. Kebutuhan modal, tingkat utang, margin, dan struktur bisnis setiap industri dapat berbeda.
Karena itu, tidak tepat menentukan bahwa perusahaan dengan ROE 15% pasti lebih buruk daripada perusahaan dengan ROE 20% tanpa melihat konteks bisnisnya.
Intinya, pemilik bisnis akan mendapatkan manfaat ROE yang lebih besar jika mereka membandingkannya dengan tren historis, kondisi industri, profitabilitas, dan struktur keuangan perusahaan. Dengan cara tersebut, pemilik bisnis tidak hanya mengetahui nilai ROE, tetapi juga dapat menilai efektivitas perusahaan dalam menggunakan modal untuk menghasilkan keuntungan.
Baca Juga: 5 Cara Mengelola Akuntansi untuk Bisnis Kecil agar Usaha Lebih Teratur
Kesimpulan
ROE merupakan salah satu indikator yang membantu pemilik bisnis menilai seberapa efektif perusahaan menggunakan modal atau ekuitas untuk menghasilkan laba. Dengan menghitung dan memantau ROE secara berkala, Anda dapat melihat perkembangan kinerja bisnis sekaligus mengevaluasi penggunaan modal, efisiensi operasional, serta rencana pengembangan usaha dengan lebih terarah.
Namun, jangan gunakan ROE sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan. Agar analisis lebih akurat, Anda perlu menyiapkan laporan keuangan yang rapi dan memastikan data keuangan tetap akurat dan dapat dipercaya. Data tersebut mencakup laba bersih, ekuitas, serta berbagai transaksi yang membentuk laporan keuangan.
Di sinilah software akuntansi Accurate dapat membantu. Catat transaksi dan susun laporan keuangan secara terstruktur agar Anda dapat memperoleh data yang diperlukan untuk memantau kondisi keuangan bisnis tanpa mengerjakan seluruh proses pencatatan dan perhitungan secara manual.
Jika Anda sedang mencari software akuntansi untuk membantu mengelola keuangan dan mendukung pengambilan keputusan bisnis, ABCPOINS.com siap membantu Anda menemukan solusi Accurate yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Anda juga dapat berkonsultasi mengenai Accurate Online, fitur yang tersedia, serta kebutuhan implementasi dan penggunaan software untuk bisnis Anda.
