Apa yang Membuat Perusahaan digital Lebih Menantang dan bagaimana mereka meningkatkan laporan keuangan mengkomunikasikan sumber nilai dalam bisnis?
Jika kita membaca kembali paragraf sebelumnya, dijelaskan bahwa pada neraca keuangan harus dijelaskan suatu yang bersifat fisik, harus dimiliki perusahaan, dan ada dalam batas-batas perusahaan. Tetapi pada perusahaan digital, sering sekali mereka tidak memiliki aset. Yang mereka miliki adalah ekosistem. Seperti halnya Go-Jek, apakah mereka memiliki aset kendaraan yang digunakan untuk operasional mereka? Situs properti Airbnb pun apakah mereka memiliki aset properti untuk disewakan? Begitupun Tokopedia dan Bukalapak di Indonesia yang tidak memiliki barang untuk dijual. Sehingga hal ini mengharuskan neraca keuangan perusahaan digital sudah tentu berbeda dengan perusahaan yang melahirkan bentuk fisik.Gagasan yang Bertentangan dengan Keuangan Tradisional
Modal Finansial Dianggap Tak Terbatas, Namun Manusia Terbatas
Tak dipungkiri perusahaan-perusahaan digital selalu terlihat ‘membakar uang’ demi mendapatkan hati konsumennya. Bahkan banyak yang menganggap dan bertanya “Dimana untungnya?” pertanyaan seperti ini sering sekali terlontarkan dari masyarakat awam mengenai perusahaan digital. Seperti halnya Go-Jek saat awal-awal muncul, banyak yang bertanya “Untungnya Go-Jek darimana?” Setiap perusahaan digital selalu menganggap sumber daya manusia mereka sebagai aset yang paling berharga. Perusahaan digital selalu beranggapan bahwa mereka selalu dapat meningkatkan modal finansial demi memenuhi kekurangan dana mereka atau menggunakan saham demi dapat menggaji karyawan.Resiko Dianggap hal Istimewa, Bukan Kekeliruan
Resiko adalah hal yang selalu dihindari dalam setiap bisnis. Bahkan kalau bisa resiko itu tidak terjadi. Ternyata pemikiran tersebut dianggap sebagai model penilaian tradisional. Sebaliknya, perusahaan digital selalu mengejar proyek-proyek berisiko seperti mengejar hadiah lotre. Ide bisnis dengan prospek yang tidak pasti namun ada kesempatan untuk mencapai satu miliar dolar itu lebih berharga. Dibandingkan proyek dengan nilai ratusan juta dolar tetapi tidak ada peluang kenaikan yang besar. Di Start Up, karyawan tidak dituntut untuk mencari laba perusahaan. Tetapi mereka dituntut untuk bisa menghadirkan ide terobosan unik dan baru bagi perusahaan. Dulu, laporan keuangan selalu menjadi acuan bagi investor untuk menanamkan dananya. Namun, kini investor menyimpulkan bahwa perusahaan yang paling sukses dengan puluhan miliar dolar valuasi tidak pernah dapat membenarkan penilaian pada awal operasi berdasarkan arus kas yang di diskontokan. Sehingga investor bersama manager menyesuaikan pendekatan dengan resiko yang sesuai.Ide Lebih Dipandang daripada Pendapatan
Orang-orang akuntansi selalu diajarkan bagaimana menilai kinerja perusahaan dari arus kas atau laba yang di diskontokan untuk masa depan. Konsep seperti ini ternyata tidak berlaku pada perusahaan digital atau Start up. Mereka selalu menganggap bahwa memperoleh laba seperti bermain lotre.