Maret 14, 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Daftar Agent

ABCPOINS.com

  • Home
  • Produk
    • Accurate 5
    • Accurate Online
    • Accurate Lite
    • Rene 2 POS
  • Promo
    • PROMO RAMADHAN
    • PROMO ACCURATE AKHIR TAHUN
  • Permintaan Demo
  • Artikel
Solusi Accurate
  • Home
  • Akuntansi
  • Debt to Equity Ratio (DER): Pengertian, Rumus, Contoh, dan Cara Membacanya
Akuntansi

Debt to Equity Ratio (DER): Pengertian, Rumus, Contoh, dan Cara Membacanya

by Agus FadhilJanuari 18, 2026Februari 1, 202613094
Share0
Debt Equity Ratio

Mengelola keuangan bisnis tidak cukup hanya dengan melihat omzet atau laba bersih. Di balik angka penjualan yang besar, bisa saja perusahaan menyimpan risiko keuangan yang tinggi akibat penggunaan utang yang berlebihan. Karena itu, pemilik bisnis, manajemen, hingga investor perlu memahami rasio keuangan yang mampu menggambarkan struktur permodalan perusahaan secara jelas.

Salah satu rasio keuangan yang paling sering digunakan untuk menilai kesehatan keuangan adalah Debt to Equity Ratio (DER). Rasio ini membantu bisnis memahami seberapa besar ketergantungan perusahaan terhadap utang dibandingkan dengan modal sendiri.

Dengan memahami Debt to Equity Ratio, pelaku usaha dapat mengambil keputusan yang lebih tepat terkait pendanaan, ekspansi, hingga strategi keuangan jangka panjang. Artikel ini akan membahas DER secara lengkap, mulai dari pengertian, rumus, contoh perhitungan, hingga cara membaca hasilnya.

Apa Itu Debt to Equity Ratio (DER)?

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio keuangan yang mengukur perbandingan antara total utang perusahaan dengan total ekuitas atau modal sendiri. Rasio ini menunjukkan sejauh mana perusahaan membiayai aktivitas operasional dan investasinya menggunakan dana pinjaman dibandingkan dengan dana yang berasal dari pemilik.

Perusahaan menggunakan DER untuk menilai struktur permodalan dan tingkat leverage keuangan. Ketika nilai DER meningkat, perusahaan semakin bergantung pada utang sebagai sumber pendanaan. Kondisi ini dapat mempercepat pertumbuhan bisnis, tetapi juga meningkatkan beban bunga serta risiko keuangan jika pendapatan tidak berjalan sesuai rencana.

Sebaliknya, DER yang terlalu rendah menandakan perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri. Struktur ini cenderung lebih aman dari sisi risiko, namun perusahaan bisa kehilangan peluang untuk memanfaatkan leverage dalam memperbesar skala usaha atau meningkatkan imbal hasil pemilik modal.

Bagi investor, DER membantu menilai tingkat risiko dan stabilitas keuangan perusahaan. Investor umumnya lebih berhati-hati terhadap perusahaan dengan DER tinggi karena potensi tekanan keuangan akan semakin besar saat kondisi bisnis melemah. Sementara itu, kreditur menggunakan DER untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban utangnya, terutama dalam jangka panjang.

Dengan memahami Debt to Equity Ratio secara tepat, pemilik bisnis, manajemen, investor, dan kreditur dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih terukur, baik dalam hal pendanaan, ekspansi, maupun pengelolaan risiko usaha.Menilai Struktur Permodalan Perusahaan.

Baca Juga: Perbedaan Belanja Operasional dan Modal: Panduan Lengkap untuk Pebisnis

Fungsi

Menilai Struktur Modal dan Kesehatan Keuangan Perusahaan

Debt to Equity Ratio membantu bisnis memahami secara langsung komposisi pendanaan antara utang dan modal sendiri. Melalui rasio ini, manajemen dapat menilai apakah perusahaan terlalu bergantung pada utang atau justru belum memanfaatkan pendanaan eksternal secara optimal.

Struktur modal yang seimbang membuat perusahaan lebih stabil saat menghadapi perubahan kondisi pasar. Ketika DER berada pada tingkat yang wajar, perusahaan menjalankan operasional dengan risiko keuangan yang lebih terkendali dan mengambil keputusan bisnis secara lebih fleksibel.

Mengukur Tingkat Risiko Keuangan Usaha

DER berperan sebagai indikator utama dalam mengukur risiko keuangan perusahaan. Semakin tinggi rasio utang terhadap modal, semakin besar pula kewajiban yang harus perusahaan penuhi, termasuk pembayaran pokok utang dan bunga secara rutin.

Saat pendapatan menurun atau arus kas terganggu, perusahaan dengan DER tinggi lebih mudah mengalami tekanan likuiditas. Oleh karena itu, manajemen menggunakan DER untuk mengantisipasi risiko gagal bayar dan menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan Pendanaan

Perusahaan menjadikan DER sebagai acuan utama sebelum menambah sumber pendanaan, baik melalui pinjaman bank maupun penerbitan saham. Dengan memahami posisi DER terkini, manajemen dapat menentukan sumber pendanaan yang paling aman dan sesuai dengan kondisi keuangan perusahaan.

Jika DER sudah tinggi, perusahaan perlu menahan penambahan utang karena dapat meningkatkan risiko keuangan. Sebaliknya, ketika DER masih rendah, perusahaan memiliki ruang untuk memanfaatkan utang sebagai leverage guna mempercepat pertumbuhan bisnis.

Membantu Investor Menilai Daya Tarik Investasi

Investor menggunakan DER sebagai rasio kunci untuk menilai profil risiko dan stabilitas keuangan perusahaan. Umumnya, investor lebih tertarik pada perusahaan dengan DER yang sehat karena mencerminkan kemampuan manajemen dalam mengelola kewajiban dan modal secara seimbang.

Rasio DER yang terkendali memberi sinyal positif bahwa perusahaan tidak terlalu agresif menggunakan utang. Kondisi ini menekan risiko kerugian akibat tekanan finansial dan meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modal.

Menjadi Pertimbangan Kreditur dalam Pemberian Pinjaman

Kreditur dan lembaga keuangan mengandalkan DER untuk menilai kelayakan kredit sebuah perusahaan. Melalui rasio ini, mereka dapat memperkirakan tingkat risiko yang muncul jika perusahaan menerima pinjaman tambahan.

Perusahaan dengan DER terlalu tinggi sering menghadapi syarat pinjaman yang lebih ketat, tingkat bunga yang lebih tinggi, atau bahkan penolakan kredit. Sebaliknya, perusahaan dengan DER sehat memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pendanaan dengan syarat yang lebih menguntungkan.

Mendukung Perencanaan Strategi Jangka Panjang

Debt to Equity Ratio tidak hanya membantu analisis jangka pendek, tetapi juga mendukung perencanaan strategi bisnis jangka panjang. Dengan memantau DER secara rutin, manajemen dapat menyusun strategi ekspansi, efisiensi biaya, atau restrukturisasi utang secara lebih terarah.

Rasio ini membantu bisnis menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas keuangan. Dengan pengelolaan yang tepat, perusahaan dapat berkembang secara berkelanjutan tanpa menimbulkan beban keuangan yang berlebihan.

Baca Juga: Menghitung Modal yang Dibutuhkan untuk Membuka Cabang Baru

Rumus Debt to Equity Ratio

Perhitungan Debt to Equity Ratio menggunakan rumus sederhana sebagai berikut:

Debt to Equity Ratio (DER) = Total Utang / Total Ekuitas

Total utang mencakup seluruh kewajiban perusahaan, baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Sementara itu, total ekuitas meliputi modal pemilik, laba ditahan, serta komponen ekuitas lainnya yang tercatat dalam laporan keuangan.

Dengan rumus ini, perusahaan dapat mengetahui berapa besar utang yang digunakan untuk setiap satu rupiah modal sendiri.

Contoh Perhitungan Debt to Equity Ratio (DER)

Agar lebih mudah memahami cara menghitung Debt to Equity Ratio, berikut contoh perhitungan DER pada sebuah perusahaan fiktif. Contoh ini membantu pemilik bisnis, investor, maupun pembaca awam melihat bagaimana rasio DER bekerja dalam praktik.

Menentukan Total Utang Perusahaan

Langkah pertama adalah mengidentifikasi total utang perusahaan. Total utang mencakup seluruh kewajiban jangka pendek dan jangka panjang, seperti utang usaha, pinjaman bank, obligasi, dan kewajiban lain yang harus dibayar perusahaan.

Misalnya, PT Maju Jaya memiliki:

  • Utang jangka pendek: Rp300.000.000
  • Utang jangka panjang: Rp700.000.000
  • Total utang perusahaan:

Rp300.000.000 + Rp700.000.000 = Rp1.000.000.000

Setelah mengetahui total utang, langkah berikutnya adalah menghitung total ekuitas. Ekuitas merupakan modal yang berasal dari pemilik perusahaan, termasuk modal disetor dan laba ditahan.

Misalnya, PT Maju Jaya memiliki:

  • Modal disetor: Rp600.000.000
  • Laba ditahan: Rp400.000.000
  • Total ekuitas perusahaan:
    • Rp600.000.000 + Rp400.000.000 = Rp1.000.000.000

Berdasarkan data di atas:

DER = Rp1.000.000.000 ÷ Rp1.000.000.000 = 1

Artinya, perusahaan menggunakan utang dan modal sendiri dalam porsi yang seimbang.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa DER PT Maju Jaya berada di angka 1. Rasio ini menandakan bahwa setiap Rp1 modal sendiri ditopang oleh Rp1 utang.

Secara umum:

  • DER < 1 menunjukkan perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri
  • DER = 1 menunjukkan struktur pendanaan yang seimbang
  • DER > 1 menunjukkan perusahaan lebih agresif menggunakan utang

Dalam contoh ini, perusahaan berada pada kondisi keuangan yang relatif stabil karena tidak terlalu bergantung pada utang.

Contoh DER Tinggi dan DER Rendah (Perbandingan Singkat)

Sebagai perbandingan:

Jika total utang Rp2.000.000.000 dan ekuitas Rp1.000.000.000, maka DER = 2. Kondisi ini menunjukkan risiko keuangan lebih tinggi karena beban utang besar.

Jika total utang Rp500.000.000 dan ekuitas Rp1.000.000.000, maka DER = 0,5. Kondisi ini menandakan perusahaan lebih konservatif dalam penggunaan utang.

Perbandingan ini membantu bisnis memahami posisi keuangannya dan menentukan strategi pendanaan yang paling tepat.

Melalui contoh perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa Debt to Equity Ratio membantu perusahaan menilai keseimbangan antara utang dan modal sendiri. Dengan memahami cara menghitung dan membaca DER, bisnis dapat mengambil keputusan pendanaan yang lebih bijak dan terukur.

Berapa Debt to Equity Ratio yang Dianggap Sehat?

Tidak ada angka DER yang mutlak ideal untuk semua bisnis. Standar DER yang sehat sangat bergantung pada jenis industri, model bisnis, dan strategi perusahaan.

Secara umum, DER di bawah 1 sering dianggap relatif aman. Namun, banyak perusahaan masih berada pada kondisi sehat meskipun memiliki DER antara 1 hingga 2, selama mampu mengelola arus kas dan kewajiban utangnya dengan baik.

Debt to Equity Ratio dan Aturan Pajak di Indonesia

Di Indonesia, pemerintah mengatur batas perbandingan utang dan modal melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 169/PMK.010/2015. Aturan ini bertujuan untuk mencegah praktik penghindaran pajak melalui pembiayaan utang yang berlebihan.

Dalam peraturan tersebut, pemerintah menetapkan batas maksimal perbandingan utang terhadap modal sebesar 4:1. Jika DER perusahaan melebihi batas tersebut, maka sebagian biaya pinjaman tidak dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan kena pajak.

Namun, ketentuan ini tidak berlaku bagi seluruh jenis usaha. Beberapa sektor seperti perbankan, lembaga pembiayaan, asuransi, dan usaha infrastruktur memiliki pengecualian tersendiri sesuai regulasi yang berlaku.

Cara Mudah Menghitung DER dengan Software Akuntansi

Menghitung Debt to Equity Ratio secara manual berisiko menimbulkan kesalahan, terutama jika jumlah transaksi bisnis cukup banyak. Untuk itu, bisnis sebaiknya menggunakan software akuntansi yang mampu menyajikan data keuangan secara akurat dan real-time.

Software akuntansi seperti Accurate Online membantu bisnis mencatat utang, ekuitas, serta menyusun laporan keuangan secara otomatis. Dengan data yang selalu ter-update, pemilik bisnis dapat memantau rasio keuangan, termasuk DER, dengan lebih mudah dan cepat.

Selain itu, Accurate Online juga mendukung laporan keuangan sesuai standar akuntansi dan regulasi perpajakan di Indonesia, sehingga analisis keuangan dapat dilakukan dengan lebih percaya diri.

Baca Juga: Pinjaman Modal Usaha Untuk Pengembangan UKM

Kesimpulan

Debt to Equity Ratio merupakan rasio keuangan penting yang membantu bisnis menilai keseimbangan antara utang dan modal sendiri. Melalui DER, perusahaan dapat mengukur risiko keuangan, menilai struktur permodalan, serta meningkatkan kepercayaan investor dan kreditur.

Dengan memahami cara menghitung dan membaca Debt to Equity Ratio secara tepat, bisnis dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih strategis dan berkelanjutan. Agar proses perhitungan dan analisis semakin akurat, penggunaan software akuntansi yang andal menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan keuangan perusahaan.

Share0
previous post
Manajemen Persediaan: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Penerapan
next post
Perkembangan Fintech di Indonesia: Tren, Regulasi, dan Masa Depan Ekonomi Digital
Agus Fadhil

Related posts

Pengertian IFRS Dalam Akuntansi

adminFebruari 20, 2026

Apa Itu Audit Perusahaan dan Dokumen yang Harus Disiapkan? (Panduan untuk Pemula)

adminMei 7, 2025Mei 17, 2025

Panduan Memilih Software Akuntansi Terbaik untuk UMKM

adminApril 25, 2025April 27, 2025

Social Media

Recent Posts

Analisis Laporan Keuangan: Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Cara Melakukannya

adminMaret 12, 2026
Maret 12, 20260

Metode Depresiasi: Pengertian, Karakter, Cara Menghitung, dan Metode Efektif

adminMaret 11, 2026
Maret 11, 20260

Klasifikasi Biaya Akuntansi: Pengertian, Fungsi, Jenis, & Penerapannya

Ade MuthiaMaret 4, 2026Maret 5, 2026
Maret 4, 2026Maret 5, 20260

SAK Entitas Privat: Pengertian, Perusahaan Pengguna, dan Komponen

adminMaret 3, 2026Maret 4, 2026
Maret 3, 2026Maret 4, 20260

7 Strategi Digital Marketing UMKM; dari Nol hingga Menghasilkan

adminMaret 2, 2026Maret 2, 2026
Maret 2, 2026Maret 2, 20260

Instagram

This message appears for Admin Users only:
Please fill the Instagram Access Token. You can get Instagram Access Token by go to this page

Search

Artikel terbaru

  • Analisis Laporan Keuangan: Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Cara Melakukannya
  • Metode Depresiasi: Pengertian, Karakter, Cara Menghitung, dan Metode Efektif
  • Klasifikasi Biaya Akuntansi: Pengertian, Fungsi, Jenis, & Penerapannya
  • SAK Entitas Privat: Pengertian, Perusahaan Pengguna, dan Komponen
  • 7 Strategi Digital Marketing UMKM; dari Nol hingga Menghasilkan

Categories

  • Accurate
  • Accurate Online
  • Akuntansi
  • Bisnis
  • Fitur
  • Informasi
  • keuangan
  • Lifestyle
  • Manajemen
  • Marketing
  • Pajak
  • Uncategorized

Social Networks

Recent Posts

Analisis Laporan Keuangan: Pengertian, Tujuan, Jenis, dan Cara Melakukannya

adminMaret 12, 2026
Maret 12, 20260

Metode Depresiasi: Pengertian, Karakter, Cara Menghitung, dan Metode Efektif

adminMaret 11, 2026
Maret 11, 20260

Klasifikasi Biaya Akuntansi: Pengertian, Fungsi, Jenis, & Penerapannya

Ade MuthiaMaret 4, 2026Maret 5, 2026
Maret 4, 2026Maret 5, 20260

SAK Entitas Privat: Pengertian, Perusahaan Pengguna, dan Komponen

adminMaret 3, 2026Maret 4, 2026
Maret 3, 2026Maret 4, 20260

7 Strategi Digital Marketing UMKM; dari Nol hingga Menghasilkan

adminMaret 2, 2026Maret 2, 2026
Maret 2, 2026Maret 2, 20260

Kategori

  • Accurate (56)
  • Accurate Online (18)
  • Akuntansi (167)
  • Bisnis (298)
  • Fitur (19)
  • Informasi (19)
  • keuangan (59)
  • Lifestyle (10)
  • Manajemen (33)
  • Marketing (14)
  • Pajak (25)
  • Uncategorized (1,025)

Software akuntansi Accurate merupakan karya anak bangsa yang dipercaya lebih dari 20 tahun di Indonesia. HIngga hari ini sudah mempunyai 3 varian produk yaitu Accuarate Dekstop ver5 , Accurate Online versi Cloud dan Accurate Lite versi Mobile Apps.

Follow Kami di

Slide

Produk

  • Accurate 5
  • Accurate Online
  • Accurate Lite
  • Rene 2 POS

Service

  • Promo
  • Demo Produk
  • Join Partner
  • Support
  • Download GRATIS Accurate 5

Menu

  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • News

 

Accurate Online Spesial Diskon

Harga Accurate Online diskon terbaru

Paket Add on Manufaktur Accurate Online

Accurate Business Center

Poins Square

Lt 2 No. 40B&C Jl. RA Kartini No.1 Lingkar Luar Selatan Lebak Bulus, Jakarta Selatan 12440

Telp : 021-759 21439 / 0811-910-121

The Plaza Semanggi

2nd floor # B45 Jl. Jend. Sudirman Kav. 50
Jakarta 12930

Tlp/WA : 0812-1107-666 / 0811-910-121

Copyright © 2024 - abcpoins.com All Right Reserved.
PenNews
FacebookInstagramYoutube
  • Home
  • Produk
    • Accurate 5
    • Accurate Online
    • Accurate Lite
    • Rene 2 POS
  • Promo
    • PROMO RAMADHAN
    • PROMO ACCURATE AKHIR TAHUN
  • Permintaan Demo
  • Artikel