Bagi pelaku usaha manufaktur baik skala kecil, menengah, maupun besar bill of material (BOM) adalah salah satu dokumen paling mendasar yang menentukan rapi atau tidaknya proses produksi. Sederhananya, BOM adalah “resep” atau daftar lengkap bahan, komponen, dan biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu unit produk jadi.
Tanpa BOM yang jelas, banyak usaha manufaktur khususnya yang masih berskala UMKM mengalami masalah klasik: kehabisan bahan baku di tengah produksi, salah beli komponen, atau baru sadar harga pokok produksi (HPP) sudah membengkak setelah barang selesai dibuat. Semua ini sebenarnya bisa dicegah kalau BOM disusun dan dikelola dengan benar sejak awal.
Agar berfungsi efektif, BOM tidak cukup hanya mencantumkan bahan mentah. Dokumen ini juga perlu memasukkan setiap sub-rakitan, subkomponen, suku cadang, hingga seluruh biaya langsung dan tidak langsung yang menambah harga pokok produksi.
Baca Juga: 10 Cara Mengurangi Downtime Produksi Perusahaan Manufaktur
Mengapa BOM Penting bagi Usaha Manufaktur (Termasuk UMKM)?
Banyak pemilik usaha manufaktur skala kecil masih mengandalkan ingatan atau catatan sederhana untuk menentukan bahan apa saja yang dibutuhkan dalam satu kali produksi. Cara ini mungkin masih bisa berjalan ketika produk dan jumlah pesanan sedikit. Tapi begitu variasi produk bertambah atau volume produksi naik, cara manual seperti ini mulai menimbulkan masalah:
- Bahan baku kurang atau berlebih: karena tidak ada acuan pasti jumlah yang dibutuhkan per unit produk.
- Harga pokok produksi tidak akurat: karena biaya bahan pendukung (lem, kemasan, label, dsb.) sering terlewat dari perhitungan.
- Sulit menghitung ulang biaya: ketika harga bahan baku naik, karena tidak ada dokumen acuan yang bisa langsung disesuaikan.
- Ketergantungan pada satu orang: biasanya pemilik usaha sendiri karena informasi produksi hanya ada di kepala, bukan di dokumen yang bisa diakses tim.
BOM menjawab semua masalah ini dengan menjadikan proses produksi lebih terdokumentasi, terukur, dan bisa diwariskan ke karyawan atau tim produksi tanpa harus bergantung pada satu orang saja.
Jenis Bill of Material untuk Manufaktur
Format BOM yang tepat sebenarnya bervariasi tergantung sifat produk yang diproduksi. Namun secara umum, setiap produk biasanya dikaitkan dengan dua jenis BOM yang berbeda: satu digunakan pada tahap rekayasa saat produk pertama kali dikembangkan, dan satu lagi digunakan saat produk sudah diluncurkan ke produksi massal untuk dikirim ke pelanggan.
Dua jenis BOM yang paling penting untuk dipahami adalah Engineering Bill of Material (EBOM) dan Manufacturing Bill of Material (MBOM).
Engineering Bill of Material (EBOM)
EBOM mendefinisikan produk jadi seperti yang awalnya dirancang. Dokumen ini mencantumkan item, suku cadang, komponen, subassembly, dan rakitan dalam produk sesuai rancangan tim teknik (engineering). EBOM umumnya dibuat oleh teknisi produk berdasarkan gambar CAD, dan untuk satu produk jadi, bisa saja lebih dari satu EBOM dibuat sesuai kebutuhan desain.
Bagi usaha manufaktur skala kecil yang belum punya tim engineering formal, EBOM bisa disederhanakan menjadi dokumen rancangan awal produk, misalnya sketsa desain beserta daftar bahan yang direncanakan sebelum produksi dimulai.
Manufacturing Bill of Material (MBOM)
MBOM adalah kumpulan dokumen yang memuat seluruh informasi terkait rakitan yang diperlukan untuk menyelesaikan dan mengirimkan produk ke pelanggan. Cakupannya lebih luas dari EBOM karena turut memasukkan bahan pengemasan seperti kotak, panduan cepat (quick start guide), CD, atau item pelengkap kemasan lainnya.
Untuk UMKM, MBOM inilah yang paling sering dipakai sehari-hari karena langsung berkaitan dengan proses produksi aktual dan perhitungan biaya produksi riil.
| Aspek | EBOM | MBOM |
| Fokus | Desain & rekayasa produk | Proses produksi & pengiriman |
| Dibuat oleh | Tim engineering/teknik (atau pemilik usaha pada UMKM) | Tim produksi/manufaktur |
| Cakupan | Komponen sesuai rancangan | Komponen + bahan pengemasan & pendukung |
| Digunakan pada tahap | Pengembangan produk | Produksi massal / produksi harian |
| Dokumen | terkaitGambar CAD, spesifikasi desain | Surat Perintah Kerja (SPK), packing list, dokumen pengiriman |
Elemen Penting dalam Bill of Material
BOM yang baik selalu menyertakan elemen-elemen berikut agar dapat berfungsi maksimal sebagai dokumen produksi dan pengadaan:
- Tingkat BOM : Setiap bagian atau rakitan diberi nomor/peringkat yang menjelaskan posisinya dalam hierarki BOM, sehingga siapa pun bisa memahaminya dengan mudah.
- Nomor bagian : Setiap item mendapat nomor unik agar mudah dirujuk dan diidentifikasi di sepanjang siklus produksi. Satu nomor untuk satu bagian saja, agar tidak membingungkan.
- Nama bagian : Nama yang detail dan unik untuk setiap bahan atau rakitan, sehingga bisa dikenali tanpa harus merujuk ke sumber lain.
- Tahap (stage) : Status siklus hidup setiap bagian, misalnya “Dalam Produksi”, “Unreleased“, atau “In Design”, untuk memudahkan pelacakan kemajuan.
- Deskripsi : Penjelasan komprehensif untuk membedakan antara bagian dan bahan yang mirip.
- Kuantitas : Jumlah setiap bagian yang dipakai di setiap rakitan, agar BOM bisa jadi alat pembelian yang akurat.
- Satuan ukuran : Misalnya “masing-masing”, “inci”, “kaki”, atau “ons”, sesuai jenis material.
- Jenis pengadaan : apakah bagian dibeli langsung dari pemasok atau diproduksi sesuai spesifikasi proyek.
- Penunjuk referensi : khusus untuk produk dengan rakitan papan sirkuit cetak (PCBA), menjelaskan posisi bagian pada papan sirkuit.
- Catatan BOM : nformasi tambahan yang dibutuhkan pengguna BOM.
Baca Juga: 9 Tantangan Industri Manufaktur di Indonesia
Contoh Sederhana Tabel Bill of Material
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh BOM sederhana untuk produk meja kayu:
| Level | No. Bagian | Nama Bagian | Deskripsi | Qty | Satuan | Jenis Pengadaan |
| 1 | MJ-001 | Meja Kayu Jadi | Produk akhir | 1 | unit | Diproduksi |
| 2 | KP-002 | Kaki Meja | Kayu jati, panjang 70 cm | 4 | pcs | Diproduksi |
| 2 | PP-003 | Permukaan Meja | Papan kayu solid | 1 | pcs | Diproduksi |
| 2 | SK-004 | Sekrup | Sekrup baja 5 cm | 16 | pcs | Dibeli |
| 2 | PN-005 | Pernis Kayu | Lapisan finishing | 0.5 | liter | Dibeli |
Contoh di atas menunjukkan bagaimana satu BOM memecah produk jadi menjadi komponen-komponen yang bisa dilacak secara individual mulai dari bahan baku utama sampai bahan pendukung seperti sekrup dan pernis. Dengan format seperti ini, pemilik usaha bisa langsung menghitung total biaya bahan per unit produk hanya dengan mengalikan kuantitas dan harga satuan masing-masing bagian.
Cara Membuat Bill of Material Langkah demi Langkah
Bagi usaha manufaktur yang belum pernah menyusun BOM secara formal, berikut langkah dasar yang bisa diikuti:
- Tentukan produk jadi yang akan dibuat BOM nya: Mulai dari satu produk andalan terlebih dahulu jika Anda punya banyak varian.
- Uraikan produk menjadi komponen-komponennya: Pecah dari bahan utama sampai bahan pendukung terkecil, termasuk barang habis pakai seperti lem atau label.
- Tentukan kuantitas setiap komponen yang dibutuhkan untuk membuat satu unit produk.
- Catat satuan ukuran dan sumber pengadaan setiap bagian — apakah dibeli dari pemasok atau diproduksi sendiri.
- Beri nomor dan level pada setiap bagian sesuai posisinya dalam hierarki produk.
- Tambahkan biaya per bagian agar BOM sekaligus bisa dipakai untuk menghitung harga pokok produksi.
- Simpan BOM dalam format yang mudah diperbarui : Baik spreadsheet maupun software produksi dan tetapkan siapa yang berwenang merevisinya.
Kesalahan Umum saat Membuat BOM
Beberapa kesalahan berikut sering ditemui, khususnya pada usaha manufaktur yang baru mulai menyusun BOM secara formal:
- Melewatkan bahan habis pakai : Sseperti lem, kabel, label, atau kotak kemasan karena dianggap “tidak penting”, padahal ikut menambah biaya produksi.
- Tidak memperbarui BOM : setelah ada perubahan harga bahan baku atau perubahan desain produk, sehingga perhitungan biaya jadi tidak akurat lagi.
- Tidak ada penomoran yang konsisten: sehingga sulit melacak versi BOM mana yang terbaru saat terjadi revisi.
- BOM hanya ada di kepala pemilik usaha: tidak didokumentasikan, sehingga proses produksi terganggu jika pemilik berhalangan hadir.
- Tidak memisahkan EBOM dan MBOM: sehingga dokumen desain awal tercampur dengan kebutuhan produksi aktual dan membingungkan tim di lapangan.
Hal yang Harus Diperhatikan Saat Membuat BOM
Sebelum menyusun BOM, ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya dijawab lebih dulu:
Apakah ada barang habis pakai yang perlu dirinci? Produsen terkadang lupa memasukkan barang habis pakai dalam jumlah banyak seperti lem, kabel, pengencang, label, atau kotak, ke dalam BOM. Semua bahan yang diperlukan harus tercantum agar BOM dapat berfungsi sebagai dokumen pengadaan dan produksi yang akurat.
Apakah ada file yang harus dilampirkan ke BOM? Banyak BOM perlu dilengkapi dokumentasi pendukung seperti gambar CAD, lembar data bagian, atau instruksi sub-perakitan. Pastikan setiap file yang dilampirkan benar-benar sesuai dengan item pada tingkat BOM tertentu.
Siapa yang akan menggunakan BOM ini? Pertimbangkan semua pihak yang mungkin perlu merujuk BOM tim produksi, pembelian, hingga quality control, dan pastikan BOM mencakup informasi yang dibutuhkan masing-masing selama siklus produksi dan pengemasan.
Bagaimana revisi BOM akan dilacak? BOM bisa mengalami beberapa kali revisi selama fase desain. Anda perlu cara untuk mengidentifikasi dan membedakan versi-versi tersebut, sehingga saat produksi dimulai, semua pihak merujuk ke versi yang benar.
Baca Juga: Pajak Karbon Perusahaan Manufaktur: Regulasi, Dampak, dan Cara Mengelolanya
Kesimpulan
Bill of material adalah dokumen inti dalam kegiatan produksi manufaktur mulai dari tahap desain (EBOM) sampai produksi massal (MBOM). Bagi usaha manufaktur berskala UMKM sekalipun, BOM yang lengkap dan konsisten membantu mengontrol biaya produksi, mengurangi kesalahan bahan baku, mempercepat proses pengadaan, dan membuat proses produksi tidak lagi bergantung pada ingatan satu orang saja.
Untuk mengelola seluruh alur produksi dari pembuatan BOM, penerbitan Surat Perintah Kerja (SPK), pengeluaran bahan baku, hingga pencatatan barang jadi akan jauh lebih mudah bila menggunakan software akuntansi yang mendukung modul manufaktur, seperti Accurate Online add On Manufaktur. Software ini memiliki fitur lengkap yang bisa dipakai untuk pencatatan akuntansi, kegiatan penjualan dan pembelian, hingga penyusunan laporan keuangan secara terintegrasi.
Klik di sini untuk informasi lebih lanjut mengenai Accurate Online Add On Manufaktur dan konsultasikan kebutuhan sistem produksi bisnis Anda bersama ABCPOINS.com.